DUKUNGAN INFRASTRUKTUR BLENDING MEMBUAT SINGAPURA MEMENUHI SPESIFIKASI BBM UNTUK INDONESIA DAN ASIA TENGGARA



JAKARTA- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan alasan di balik mendominasinya impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari negara tetangga, Singapura dan Malaysia.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Migas) Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Mustika Pertiwi mengatakan, impor BBM dari kedua negara itu karena kedua negara tetangga RI itu memiliki banyak fasilitas pencampuran (blending) berbagai kualitas BBM yang diproduksi dari kilang di berbagai negara, sehingga produk BBM-nya sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan Indonesia.

Misalnya, BBM Pertalite (RON 90). Menurutnya, spesifikasi BBM Pertalite ini tidak sama spesifikasinya dengan BBM yang dijual di negara lain.

Hal itu dikatakannya berdasarkan informasi yang diterima dari PT Pertamina (Persero) selaku badan usaha penyalur dan juga pengimpor BBM. "Singapura dan Malaysia memiliki banyak fasilitas blending dan storage yang memungkinkan mem-blending atau mencampur berbagai kualitas BBM yang diproduksi dari kilang di berbagai negara termasuk dari Arab Saudi, India, Korea, China, dan lain-lain untuk memenuhi produk sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan Indonesia atau negara pembeli BBM lainnya," jelasnya kepada CNBC Indonesia, Senin (22/4/2024).

"Setiap negara memiliki kualitas dan spesifikasi BBM tertentu, seperti halnya Indonesia yang memiliki Pertalite yang tidak sama spesifikasinya dengan BBM di negara lain," ucapnya.

Tak hanya ke Indonesia, menurutnya Singapura dan Malaysia juga mengekspor BBM ke negara-negara di Asia Tengara lainnya dan Australia. "Selain Indonesia, dengan fasilitas blending dan storage yang sangat besar dan lokasi strategis, Singapura atau Malaysia juga memasok kebutuhan BBM di negara-negara Asia Tenggara lainnya dan Australia," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif sempat menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor banyak BBM dari negara Singapura, Malaysia, dan India.

Tak hanya BBM, Indonesia juga mengimpor minyak mentah dari berbagai negara. Mayoritas impor minyak mentah Indonesia adalah dari Arab Saudi dan juga Nigeria. Sementara Liquefied Petroleum Gas (LPG) diimpor dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat. "Kita juga impor BBM dari tiga negara seperti Singapura, Malaysia, dan India. Ini kan harus diantisipasi sumber-sumber supply kilangnya yang ada di Kilang Singapura, Malaysia dan Kilang India. Kalau dulu kan Rusia di banned tetap aja mengambil. Jadi ini memang geopolitik ini serius," kata Arifin di Kantor Ditjen Migas, Jumat (19/4/2024).

Adapun, produksi minyak nasional saat ini hanya mencapai sekitar 600 ribu barel per hari (bph), sementara kebutuhan mencapai 840 ribu bph. Kekurangan tersebut harus ditutupi melalui impor, dengan 240 ribu barel per hari berasal dari minyak mentah dan 600 ribu barel per hari dari BBM.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat impor minyak bumi Indonesia pada 2022 secara nilai terbesarnya berasal dari Singapura mencapai US$ 10,3 miliar dengan berat bersih 10,9 juta ton. Posisi ke-2 yaitu Malaysia mencapai US$ 6,2 miliar dengan berat bersih 6,7 ton. Posisi selanjutnya yaitu Arab Saudi dan disusul dengan Nigeria.

Secara jumlah keseluruhan, Indonesia mengimpor minyak bumi pada 2022 mencapai 47,74 juta ton atau US$ 40,41 miliar setara dengan Rp 656,76 triliun.

Singapura juga tercatat sebagai negara pengekspor minyak terbesar ketiga di dunia. Sebagian besar ekspor minyak tersebut dikirim ke Indonesia, Malaysia, dan China.

Singapura impor minyak mentah dari Indonesia:

Bahan baku BBM alias minyak mentah kilang di Singapura, juga datang dari Indonesia dalam jumlah yang cukup signifikan.

Singapura adalah importir minyak mentah asal Indonesia. Sebagai contoh, pada Januari-September 2019, nilai ekspor minyak mentah Indonesia ke Singapura adalah 546,71 juta dollar AS. Nilai ini mencapai 43,49 persen dari total ekspor minyak mentah Indonesia.

Bahkan, sepanjang 2000 hingga 2021, Indonesia belum pernah sekalipun mencatatkan surplus alias selalu tekor saat berdagang dengan Singapura.

Sebagai contoh, dikutip dari laman Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor Indonesia berturut-turut ke Singapura yakni 2019 sebesar 12,916 miliar dollar AS, 2020 sebesar 10,661 miliar dollar AS, dan tahun 2021 sebesar 11,634 miliar dollar AS.

Sebaliknya, impor Indonesia dari Singapura pada tahun 2019 adalah sebesar 17,589 miliar dollar AS, tahun 2020 sebesa2 12,341 miliar dollar AS, dan tahun 2021 adalah sebesar 15,415 miliar dollar AS.

Dengan demikian, defisit Indonesia dalam 3 tahun terakhir berdagang dengan Singapura sebesar 4,673 miliar dollar AS (2019), 1,679 miliar dollar AS (2020), dan 3,817 miliar dollar AS (2021).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOS SINAR MAS BOCORKAN RENCANA KONSORSIUM NUSANTARA GARAP PROYEK BARU DI IKN

KLAIM TENTANG PENJUALAN 100 PULAU OLEH PEMERINTAH TERBUKTI HOAKS!

JOKOWI SEBUT BELUM ADA RAPAT PEMBAHASAN SUBSIDI KRL BERBASIS NIK