OTORITA KOMITMEN MENGEMBALIKAN KEJAYAAN HUTAN TROPIS KALIMANTAN



NUSANTARA- Pemerintah Indonesia telah menetapkan ambisi besar untuk menjadikan 65% wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kawasan lindung, dengan fokus utama pada pemulihan ekosistem yang terganggu. Dengan luas total mencapai 250.000 hektar, lebih dari setengahnya, sekitar 126.000 hektar, termasuk dalam kategori kritis. Lahan ini, nyaris dua kali lipat luas Jakarta, menghadapi tantangan serius akibat aktivitas tambang ilegal sebelum status IKN diberlakukan, terutama di sebagian Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.

Pungky Widiaryanto, Direktur Pengembangan Pemanfaatan Kehutanan dan Sumber Daya Air Otorita IKN, menegaskan bahwa upaya konservasi ini bertujuan untuk melestarikan lingkungan dan keanekaragaman hayati yang khas di wilayah ini. "177.000 hektar kawasan lindung akan dibagi menjadi berbagai zona, termasuk hutan sekunder, hutan bakau, hutan tanaman industri/monokultur, dan area pertanian, pertambangan, serta perkebunan kelapa sawit," ujarnya dalam konferensi pers virtual.

Citra satelit dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukkan perubahan drastis dalam kondisi hutan IKN dari April 2022 hingga Februari 2024. Penebangan hutan yang signifikan terlihat di beberapa area, mencerminkan tantangan pemulihan ekosistem yang dihadapi.

Menanggapi hal ini, Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN, Myrna Safitri, mengakui bahwa kondisi hutan lindung saat ini jauh dari ideal. "Konversi besar-besaran sebelum pembangunan IKN telah mengubah wajah hutan dan mengancam keanekaragaman hayati," katanya. Myrna menegaskan bahwa pembangunan IKN sebagai 'kota hutan' akan menjadi tonggak baru dalam pelestarian alam, dengan fokus utama pada restorasi ekosistem dan upaya pemulihan kejayaan hutan tropis Kalimantan.

Otorita IKN juga memperkenalkan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati sebagai bagian integral dari upaya menjaga kelestarian hayati dalam pengembangan ibu kota negara baru. Langkah-langkah konkret seperti pembangunan koridor buatan untuk menghubungkan kembali habitat terpisah dan memberikan kompensasi saat harus memotong habitat alami flora dan fauna menjadi strategi utama dalam meminimalkan dampak lingkungan dari pembangunan ini.

Dengan komitmen kuat terhadap keberlanjutan dan konservasi, Indonesia berharap bahwa Ibu Kota Nusantara tidak hanya menjadi pusat administratif baru, tetapi juga contoh nyata kota yang harmonis dengan alam, menjaga kekayaan alam dan keberlanjutan bagi generasi mendatang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOS SINAR MAS BOCORKAN RENCANA KONSORSIUM NUSANTARA GARAP PROYEK BARU DI IKN

KLAIM TENTANG PENJUALAN 100 PULAU OLEH PEMERINTAH TERBUKTI HOAKS!

JOKOWI SEBUT BELUM ADA RAPAT PEMBAHASAN SUBSIDI KRL BERBASIS NIK