AWAS HOAKS...!! NARASI SISWA TAK BISA BACA KARENA KURIKULUM MERDEKA YANG BEREDAR TERNYATA SALAH!


\

JAKARTA- Baru-baru ini, beredar di media sosial sebuah video yang menunjukkan puluhan pelajar SMP yang tidak bisa membaca. Video tersebut menjadi viral dan mengundang berbagai reaksi dari warganet. Banyak yang heran dan mempertanyakan bagaimana siswa-siswa tersebut bisa naik kelas dari SD ke SMP jika mereka tidak bisa membaca. Tidak sedikit pula yang menyalahkan Kurikulum Merdeka sebagai penyebab dari masalah ini. Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut, narasi tersebut ternyata salah dan menyesatkan.

Video viral yang diunggah oleh akun Instagram @lambe_turah pada 2 Agustus 2024 menunjukkan pelajar SMP yang sedang diajari membaca oleh gurunya. Dalam unggahan tersebut, terdapat tulisan yang menyatakan bahwa banyak siswa SD dan SMP yang tidak bisa membaca dan tidak tahu alphabet. Akibatnya, guru-guru harus mengajarkan mereka membaca di luar jam pelajaran. Narasi ini langsung mendapat perhatian luas dan berbagai komentar dari warganet.

Namun, faktanya, video tersebut bukanlah video baru. Video ini sebenarnya sudah pernah viral pada tahun 2023 dan menampilkan pelajar SMP Negeri 1 Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Menurut pemberitaan dari Tribunjabar.id dan Kompas.com pada 6 Agustus 2023, terdapat 29 pelajar di SMP Negeri 1 Mangunjaya yang belum bisa membaca. Rinciannya, 11 siswa kelas 7, 16 siswa kelas 8, dan 2 siswa kelas 9.

Dian Eka Purnamasari, guru SMP Negeri 1 Mangunjaya sekaligus Koordinator Gerakan Literasi Sekolah (GLS), menyatakan bahwa alasan utama kelulusan para siswa ini adalah faktor usia, fisik, dan karakter atau perilaku murid. Selain itu, nilai rata-rata rapor dan tingkat kehadiran murid di sekolah juga menjadi pertimbangan. "Meskipun sekolah di SD enam tahun lagi pasti tetap seperti itu (tidak bisa membaca)," ujar Maman, Ketua Kegiatan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kabupaten Pangandaran.

Salah satu alasan lain mengapa para pelajar tersebut belum bisa membaca adalah karena tidak adanya guru yang memiliki kompetensi mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK) di tingkat SD dan SMP. Maman menjelaskan bahwa ABK tidak hanya terlihat dari fisik, tetapi juga respons murid saat proses belajar mengajar. Anak berkebutuhan khusus di bidang linguistik bisa langsung pusing saat melihat huruf atau bacaan.

Narasi yang menyalahkan Kurikulum Merdeka sebagai penyebab siswa tidak bisa membaca adalah tidak berdasar dan menyesatkan. Kurikulum Merdeka sendiri dirancang untuk memberikan fleksibilitas dalam proses belajar mengajar, memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatan mereka masing-masing. Menyalahkan kurikulum tanpa memahami konteks dan faktor-faktor lain yang berperan hanya akan menambah kebingungan dan misinformasi di masyarakat.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Jangan mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu benar dan selalu cek fakta sebelum menyebarkan informasi lebih lanjut. Ingat, melawan hoaks adalah tanggung jawab kita bersama demi menciptakan masyarakat yang lebih cerdas dan kritis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOS SINAR MAS BOCORKAN RENCANA KONSORSIUM NUSANTARA GARAP PROYEK BARU DI IKN

KLAIM TENTANG PENJUALAN 100 PULAU OLEH PEMERINTAH TERBUKTI HOAKS!

JOKOWI SEBUT BELUM ADA RAPAT PEMBAHASAN SUBSIDI KRL BERBASIS NIK