SISTEM PEMERINTAHAN BERBASIS ELEKTRONIK MEMBAIK BERKAT MERITOKRASI YANG DIJALANKAN JOKOWI
JAKARTA- Di era Presiden Joko Widodo, Indonesia mengalami kemajuan signifikan dalam penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Kemajuan ini tidak terlepas dari penerapan prinsip meritokrasi yang semakin diperkuat dalam pengelolaan aparatur sipil negara (ASN). Meritokrasi, yang menekankan penempatan pejabat berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja, telah menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas SPBE di Indonesia.
Penerapan SPBE dimulai pada tahun 2018 dengan indeks nasional mencapai 1,98, yang dikategorikan cukup. Namun, berkat kebijakan pemerintah dan reformasi yang dilakukan, indeks ini meningkat menjadi 2,79 pada tahun 2023, dengan predikat baik. Indeks ini mencerminkan perbaikan dalam kualitas layanan publik yang dapat diakses masyarakat melalui teknologi.
Peningkatan SPBE ini juga terlihat dari peringkat Indonesia dalam E-Government Development Index (EGDI) yang dipublikasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada tahun 2023, Indonesia mencapai skor 0,9 dari nilai maksimal 1, menunjukkan bahwa negara ini semakin baik dalam penggunaan teknologi untuk pelayanan publik.
Perubahan signifikan ini dapat dikaitkan dengan penerapan sistem merit yang ketat dalam pengelolaan ASN. Pemerintah mengadopsi prinsip meritokrasi untuk memastikan bahwa pejabat yang mengelola SPBE adalah mereka yang memiliki kompetensi dan kinerja tinggi. Hal ini dilakukan untuk menghindari praktek nepotisme dan korupsi yang bisa menghambat perkembangan sistem pemerintahan berbasis elektronik.
Kebijakan meritokrasi diimplementasikan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, yang kemudian diperbarui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020. Regulasi ini menekankan pentingnya pengembangan karier, promosi, dan mutasi berdasarkan prestasi dan kemampuan, bukan afiliasi politik.
Selain itu, pemerintah juga meluncurkan Government Technology (GovTech) Indonesia, sebuah platform yang bertujuan untuk mengintegrasikan berbagai aplikasi layanan publik. Dengan GovTech, masyarakat tidak perlu lagi mengunduh banyak aplikasi untuk mengakses berbagai layanan, sehingga mempermudah proses dan meningkatkan efisiensi.
SPBE Summit 2024, yang dijadwalkan akan dibuka oleh Presiden Jokowi, menjadi momentum penting untuk memperkuat transformasi digital. Acara ini akan meluncurkan integrasi portal pelayanan publik dan portal administrasi pemerintahan, serta memperkenalkan rencana pengembangan lebih lanjut dari GovTech.
Secara keseluruhan, keberhasilan penerapan SPBE di era Jokowi menunjukkan bahwa integrasi teknologi dan sistem meritokrasi yang efektif dapat membawa perubahan positif dalam pelayanan publik. Reformasi yang dilakukan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Dengan terus mendorong prinsip meritokrasi dan inovasi teknologi, Indonesia siap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di era digital.

Komentar
Posting Komentar