JOKOWI BENAR, KELAS MENENGAH 'JATUH MISKIN' TERJADI DI BANYAK NEGARA



JAKARTA- Penurunan kelas menengah yang kini dirasakan di banyak negara merupakan fenomena global yang semakin mencuat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga merambah ke berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Fenomena ini menunjukkan dampak signifikan dari perubahan ekonomi global dan berbagai krisis yang melanda.

Pengajar Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Yorga Permana, dalam diskusi yang diadakan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengungkapkan bahwa penurunan kelas menengah sudah tercatat di 21 dari 31 negara Eropa sejak 2017. Data menunjukkan bahwa negara-negara seperti Jerman, Swedia, dan Spanyol mengalami penurunan signifikan dalam proporsi kelas menengah. Di Jerman, misalnya, proporsi kelas menengah turun dari 71,7% pada tahun 2003 menjadi 62,4% pada tahun 2014. Di Swedia, penurunan serupa terjadi dari 76,8% menjadi 70,4% pada periode yang sama. Sementara di Spanyol, proporsi kelas menengah menurun dari 58,7% pada tahun 2003 menjadi 52,7% pada tahun 2014.

Amerika Serikat juga mengalami penurunan kelas menengah, yang tercatat telah berlangsung sejak tahun 1971. Fenomena ini menunjukkan bahwa penurunan kelas menengah adalah masalah global yang melampaui batas-batas negara.

Di Indonesia, penurunan kelas menengah menjadi masalah yang semakin mendalam. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 9,48 juta orang kelas menengah mengalami penurunan kelas ekonomi dari tahun 2019 hingga 2024. Pandemi Covid-19 merupakan salah satu faktor utama yang mempercepat penurunan ini. Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa fenomena penurunan kelas menengah ini merupakan masalah yang dihadapi hampir seluruh negara di dunia, dipengaruhi oleh penurunan ekonomi global dan dampak pandemi.

Kinerja industri manufaktur yang melemah serta pengurangan tenaga kerja yang dilakukan oleh banyak perusahaan berkontribusi pada penurunan kelas menengah. Data menunjukkan peningkatan jumlah tenaga kerja sektor informal, yang menunjukkan adanya perubahan struktural dalam pasar tenaga kerja. Dari 38,29% pada tahun 2019, porsi tenaga kerja sektor informal meningkat menjadi 40,64% pada tahun 2024.

Penurunan kelas menengah di seluruh dunia menandakan adanya tantangan besar dalam perekonomian global dan nasional. Hal ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang mendukung penguatan kelas menengah dan memberikan perlindungan sosial yang lebih baik bagi masyarakat yang terdampak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BOS SINAR MAS BOCORKAN RENCANA KONSORSIUM NUSANTARA GARAP PROYEK BARU DI IKN

KLAIM TENTANG PENJUALAN 100 PULAU OLEH PEMERINTAH TERBUKTI HOAKS!

JOKOWI SEBUT BELUM ADA RAPAT PEMBAHASAN SUBSIDI KRL BERBASIS NIK