PEMERINTAH MENARGETKAN PENGURANGAN SAMPAH LAUT HINGGA 70% PADA TAHUN 2025
JAKARTA- Pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk mencapai kebersihan sampah pada tahun 2025 sebagai bagian dari upaya nasional untuk mengatasi krisis sampah plastik yang mengancam lingkungan. Berdasarkan laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia, yang saat ini berada di peringkat sembilan sebagai penghasil sampah plastik terbesar di dunia, menghadapi tantangan besar dalam mengurangi sampah plastik yang mencemari lautan. Studi Lebreton dkk.
2019 memperkirakan bahwa negara ini menghasilkan antara 1,37 hingga 1,73 juta ton sampah plastik setiap tahunnya, dengan kebocoran sampah ke laut mencapai 0,27 hingga 0,59 juta ton.
Mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Indonesia meluncurkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut, yang menjadi dasar dari upaya pengurangan sampah laut hingga 70% pada tahun 2025. Hingga tahun 2023, Indonesia telah berhasil mengurangi 41,68% sampah laut. “Keberhasilan ini memerlukan kolaborasi dari semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta,” kata Muhammad Hasbi, Direktur Sekolah Dasar, dalam rapat koordinasi dan evaluasi Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL) pada 5 September 2024.
Untuk mencapai pencapaian target, pemerintah juga aktif di forum internasional. Dalam konferensi Intergovernmental Negotiating Committee (INC-4) di Ottawa, Kanada, Indonesia menyatakan komitmennya terhadap Global Plastic Treaty. “Isu polusi plastik adalah masalah global, dan Indonesia berkomitmen untuk berada di garis depan dalam upaya mengatasinya,” ungkap Hasbi.
Di tingkat domestik, pemerintah memperkuat kelembagaan Tim Pelaksana RAN PSL berdasarkan Keputusan Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Nomor 88A Tahun 2024. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan memastikan pelaksanaan rencana aksi dengan efektif. Hasbi pentingnya langkah konkret dan berkelanjutan dalam upaya mencapai target tersebut.
Selain itu, program Sekolah Pantai Indonesia (SPI) diluncurkan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan siswa di wilayah pesisir. Program ini mengajarkan metode 4A: Amati, Analisa, Ajarkan, dan Aksi, untuk membentuk generasi muda sebagai agen perubahan lingkungan. “Kami berharap siswa dapat menjadi pelopor dalam upaya pelestarian lingkungan di komunitas mereka,” kata Weka Mahardi dari Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
KLHK juga telah melakukan berbagai inisiatif, seperti kampanye pengelolaan sampah selama mudik Lebaran 2022 dan pameran mini pada Hari Sumpah Pemuda. Semua langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah dan melindungi generasi mendatang dari dampak polusi sampah. Dengan dukungan dari berbagai pihak, target kebersihan sampah yang diharapkan pada tahun 2025 dapat tercapai dengan sukses.

Komentar
Posting Komentar